Tak kunjung Diperbaiki Pemerintah, Warga Bentengi Tebing Longsor Pakai Karung
CILACAP — Rasa cemas yang memuncak akibat pembiaran berlarut-larut akhirnya mendorong warga bertindak mandiri. Lantaran tak kunjung mendapat perhatian maupun penanganan fisik dari pemerintah desa dan instansi terkait, puluhan warga RT 04/07 Dusun Buniseuri, Desa Panulisan, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, menggelar aksi gotong royong membenahi tebing saluran air yang longsor secara swadaya.
Tanpa menunggu bantuan yang tak kunjung datang, warga memadati lokasi sejak pagi hari dengan membawa cangkul, sekop, serta ratusan karung bekas. Mereka bahu-membahu mengisi karung-karung tersebut dengan tanah dan bebatuan, lalu menyusunnya secara bertingkat menjadi dinding penahan darurat di sepanjang tebing yang tergerus air.
Langkah darurat ini terpaksa diambil demi mencegah erosi tanah makin meluas yang berisiko mengikis badan jalan serta mengancam keselamatan pemukiman warga di sekitarnya.
Memendam Cemas Sejak November 2024
Berdasarkan penuturan warga setempat, musibah longsornya tebing saluran air tersebut sebenarnya bukan kejadian baru. Kerusakan tebing ini sudah berlangsung sejak November 2024. Namun, kendati ancaman bahaya telah mengintai kawasan RT 04/07 selama lebih dari satu tahun, hingga kini belum ada tindakan konkret di lapangan dari Pemerintah Desa Panulisan maupun dinas teknis Pemkab Cilacap.
Kondisi ini kian memprihatinkan setiap kali intensitas hujan meningkat. Arus air yang mengalir deras di saluran perlahan mengikis bagian bawah tebing (under cutting), membuat rongga longsoran kian meluas dan mendekati pemukiman.
"Kami sudah tidak bisa terus-menerus memendam cemas. Longsoran ini terjadi sejak November 2024 dan kondisinya makin hari makin kritis. Kalau kami cuma diam menunggu tanpa kepastian, jalan bisa putus dan rumah warga di tepi saluran yang jadi taruhannya," ujar salah seorang tokoh masyarakat RT 04/07 di lokasi kegiatan.
Solidaritas Swadaya di Tengah Keterbatasan
Pantauan di lokasi menunjukkan semangat kebersamaan warga yang cukup tinggi di tengah keterbatasan sarana. Laki-laki dewasa, pemuda, hingga para lansia membagi tugas secara Spontan: sebagian mengeruk tanah dan mengisi karung, sebagian menata fondasi karung di dasar saluran, dan sebagian lainnya mengangkut material secara estafet.
Meskipun dinding karung tanah berhasil didirikan, warga menyadari sepenuhnya bahwa langkah ini hanyalah penanganan sementara. Karung plastik dan tanah memiliki batas ketahanan yang singkat, terutama jika diterjang debit air deras secara terus-menerus.
"Karung tanah ini kan sifatnya penanganan darurat, paling hanya bertahan beberapa bulan. Kalau hujan deras turun berturut-turut di wilayah Dayeuhluhur dan debit air meluap, risiko jebol tetap ada. Tapi ini satu-satunya hal yang bisa kami lakukan secara mandiri saat ini," tambah warga lainnya.
Mendorong Pembangunan Penahan Tebing Permanen atau Bronjong
Lewat aksi gotong royong ini, masyarakat Blok Cidua RT 04/07 Dusun Buniseuri menyuarakan harapan besar agar Pemerintah Desa Panulisan, Kecamatan Dayeuhluhur, hingga Pemkab Cilacap segera meninjau lokasi dan mengalokasikan anggaran perbaikan permanen.
Warga sangat berharap pemerintah dapat membangun konstruksi penahan tebing yang kokoh—baik berupa pemasangan bronjong kawat maupun talud beton—agar struktur tanah terkunci secara permanen dan warga tak lagi dibayangi ketakutan saat musim hujan tiba.
"Aksi ini adalah bukti kami peduli pada lingkungan sendiri. Namun, untuk pembangunan penahan tebing yang kokoh seperti bronjong atau talud permanen, tentu butuh penanganan teknis dan anggaran dari pemerintah. Kami sangat berharap instansi terkait tidak tutup mata dan bisa segera merealisasikan pembangunan di wilayah kami," tegas narasumber mengakhiri.(Yosep supriadi)






