𝗞𝗜𝗧𝗔 𝗕𝗘𝗥𝗧𝗘𝗡𝗚𝗞𝗔𝗥, 𝗦𝗜𝗔𝗣𝗔 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗘𝗦𝗧𝗔? 𝗠𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗞𝗼𝗻𝗳𝗹𝗶𝗸 𝗣𝗦𝗛𝗧 𝗦𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗦𝗸𝗲𝗻𝗮𝗿𝗶𝗼 𝗣𝗲𝗹𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘀a dan Diri Sendiri

MADIUN, Harian62.info -

Dulur berhentilah sejenak ayo merenung: sadarkah kita bahwa puluhan tahun waktu kita habis hanya untuk urus pertikaian di PSHT? Sadarkah setiap hari kepala kita dipaksa berpikir soal kubu ini dan kubu itu? Berapa jam dalam sehari waktu kita tersita hanya untuk scroll WA, TikTok dan Facebook membaca komentar pedas, dan berdebat kusir dengan saudara sendiri?


Berapa jam yang kita habiskan di warung kopi hanya untuk ngobrolin sengketa PSHT yang ujungnya malah bikin tensi darah naik? Tanpa kita sadari, rutinitas yang menguras hati, pikiran, dan energi ini sudah berjalan nyaris 20 tahun. Akibatnya apa? Kita jadi lupa fokus memikirkan keluarga. Kita jadi nggak fokus bekerja. Kita jadi malas memikirkan inovasi. Para pemuda lupa memikirkan masa depan. Padahal, di saat kita sibuk bertengkar dengan saudara seperguruan, dunia luar sedang bergerak cepat dan kompetisi sedang bergerak cepat dan kompetisi dengan bangsa lain semakin brutal.


Lalu, pernahkah kita berpikir: 𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻-𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶𝗸𝗮𝗶𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗶𝗻𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗸𝗲𝗯𝗲𝘁𝘂𝗹𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗶𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝘀𝗮𝗶𝗻𝗻𝘆𝗮?


Dalam kajian sosiologi politik dan geopolitik, apa yang terjadi pada Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) saat ini bisa dibaca lebih dari sekadar sengketa kepengurusan atau rebutan aset, melainkan bagian dari fenomena 𝗽𝗲𝗹𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝘁 𝘀𝗶𝗽𝗶𝗹 (𝗰𝗶𝘃𝗶𝗹 𝘀𝗼𝗰𝗶𝗲𝘁𝘆) 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝘀𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝗴𝗶 𝗗𝗲𝘃𝗶𝗱𝗲 𝗲𝘁 𝗜𝗺𝗽𝗲𝗿𝗮 (𝗮𝗱𝘂 𝗱𝗼𝗺𝗯𝗮) 𝗺𝗼𝗱𝗲𝗿𝗻.


𝗣𝗦𝗛𝗧 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 "𝗥𝗮𝗸𝘀𝗮𝘀𝗮 𝗧𝗶𝗱𝘂𝗿" 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗶𝘁𝗮𝗸𝘂𝘁𝗶 𝗘𝗹𝗶𝘁 𝗕𝗲𝗿𝗸𝗲𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻

Mari kita fahami situasi ini secara luas dan mendalam. PSHT bukanlah perguruan silat sembarangan. Kita adalah "Raksasa Tidur" dengan puluhan juta anggota yang tersebar dari desa-desa terpelosok hingga ke mancanegara. Secara geopolitik dan sosiologi, puluhan juta massa yang solid, teredukasi, dan terorganisir adalah kekuatan sipil (civil society) yang sangat menakutkan bagi para elite politik rakus, kaum oligarki, dan pihak asing.


Jika puluhan juta warga PSHT ini bersatu, fokus berkarya, saling memajukan ekonomi anggota, dan kritis terhadap ketidakadilan negara, kita bisa menjadi kekuatan penyeimbang yang luar biasa. Tentu saja, pihak-pihak yang punya niat jahat untuk mengeruk kekayaan Indonesia (Sumber Daya Manusia dan Kekayaan Alam) tidak akan membiarkan raksasa ini terbangun dalam keadaan solid.


𝗦𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝗴𝗶 𝗣𝗲𝗹𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗻: 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗔𝗸𝗮𝗿 𝗥𝘂𝗺𝗽𝘂𝘁 𝗦𝗶𝗯𝘂𝗸 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝗿

Konsep pengalihan isu ini bekerja dengan sangat efektif: buat mereka sibuk bertengkar dengan saudaranya sendiri di tingkat bawah, agar mereka tidak sempat melihat ke atas.


1. Selama energi puluhan juta warga PSHT habis untuk berdebat di media sosial, saling jegal di jalanan, atau mengurus sengketa hukum bertahun-tahun, mereka tidak akan punya waktu dan pikiran untuk berinovasi, mengkritisi kebijakan pemerintah, atau menyoroti eksploitasi sumber daya alam.


2. Kita dibuat mabuk oleh fanatisme buta. Kita jadi tidak peduli saat di level elite nasional sumber daya alam kita dikeruk, saat hukum negara diakali, atau saat ekonomi bangsa sedang dipertaruhkan. Kita hanya peduli: "𝑃𝑜𝑘𝑜𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑢𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔, 𝑘𝑢𝑏𝑢 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑘ℎ𝑖𝑎𝑛𝑎𝑡!"


𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗦𝗛𝗧 𝗞𝗼𝗺𝗼𝗱𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗠𝘂𝗿𝗮𝗵

Dalam kondisi bersatu, PSHT memiliki nilai tawar (bargaining power) yang sangat tinggi secara politik dan sosial ekonomi. Namun, ketika pecah, kelompok-kelompok ini menjadi lebih mudah disetir, diintervensi, dan dibeli murah oleh politisi, korporasi, maupun elite asing (terutama jelang pesta politik). Birokrasi dan aparat keamanan di daerah sering kali ikut "bermain" atau membiarkan konflik berlarut-larut karena memelihara faksi yang bisa dikendalikan jauh lebih menguntungkan daripada menghadapi PSHT yang bersatu dan taat pada satu komando hukum yang sah.


𝗘𝗴𝗼 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝗹 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗣𝗶𝗻𝘁𝘂 𝗠𝗮𝘀𝘂𝗸 𝗣𝗲𝗻𝘂𝗺𝗽𝗮𝗻𝗴 𝗚𝗲𝗹𝗮𝗽

Tentu saja, operasi adu domba dari luar ini tidak akan berhasil jika tidak ada "pintu yang dibukakan" dari dalam. Ego sektoral, syahwat kekuasaan oknum pengurus, dan hilangnya implementasi ajaran budi luhur (sepi ing pamrih) adalah celah yang dimanfaatkan oleh pihak eksternal. Oknum-oknum yang membangkang terhadap hukum negara (Putusan MA) tidak sadar sejatinya sedang melayani agenda pihak luar untuk terus memecah belah PSHT.


𝗥𝗲𝗳𝗹𝗲𝗸𝘀𝗶 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗣𝗦𝗛𝗧

Pertikaian puluhan tahun ini harus menjadi tamparan kesadaran (eling lan waspada) bagi seluruh warga PSHT, baik di kubu mana pun.

1. Konflik ini sejatinya sedang menguntungkan siapa? Jelas bukan menguntungkan organisasi, melainkan menguntungkan pihak-pihak yang tidak ingin melihat Indonesia memiliki generasi muda yang solid, cerdas, dan inovatif.


2. Cara terbaik untuk melawan skenario penjajahan gaya baru ini adalah dengan Guyup Rukun bersatu di bawah payung hukum konstitusi negara yang sah. Karena organisasi yang legal punya daya tawar tinggi di mata hukum dan di mata internasional. Kelompok tanpa dasar hukum akan selalu dicap kumpulan preman ilegal, oposisi jalanan yang terancam diberangus oleh aparat negara dan internasional.


Ajaran Memayu Hayuning Bawana (memperindah keindahan dunia) tidak akan pernah terwujud jika energi warga PSHT dihabiskan untuk merusak rumah besarnya sendiri demi memuaskan skenario para "sutradara" di balik layar. Sudah saatnya PSHT melek literasi, taat hukum, dan kembali menjadi pelopor kemajuan bangsa, bukan sekadar komoditas konflik.


( Dul Kribo ).

Baca Juga Brow
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan

⚖
BUTUH BANTUAN HUKUM
UNTUK PERKARA ANDA???
KONSULTASI • PENDAMPINGAN • ADVOKASI • PENYELESAIAN PERKARA

Iklan

⚖
BUTUH BANTUAN HUKUM
UNTUK PERKARA ANDA???
KONSULTASI • PENDAMPINGAN • ADVOKASI • PENYELESAIAN PERKARA

نموذج الاتصال