MUNTOK, BANGKA BARAT — Laut Keranggan dan Tembelok seolah tak pernah benar-benar tenang. Meski aparat penegak hukum telah berkali-kali turun memberikan himbauan, bahkan melakukan penindakan, aktivitas penambangan timah ilegal di perairan Kabupaten Bangka Barat ini terus berlangsung. Para penambang seolah menantang aturan: siang hari terlihat ratusan ponton berjejer, namun di balik itu, kegiatan penggalian tetap berjalan.
Warga setempat menyebut, ponton-ponton yang terlihat berderet di permukaan air bukan sekadar parkir. Di balik keheningan siang, aktivitas pengambilan timah berlanjut, terutama saat malam tiba.
"Siang terlihat diam, seolah tidak ada apa-apa. Tapi malam hari, lampu-lampu menyala, suara keran mesin terdengar sampai ke darat. Mereka mengeruk laut kami tanpa henti," ujar seorang warga Keranggan yang enggan disebut namanya, Senin (5/10/2026).
Kegigihan para penambang ini berbanding terbalik dengan nasib warga asli. Laut yang dulunya menjadi sumber kehidupan bersama kini seolah menjadi milik segelintir orang. Warga Keranggan yang ingin turun ke laut, sekadar meminta bagian atau ikut memanfaatkan wilayah perairan tersebut, justru mendapat perlakuan tidak layak. Mereka yang seharusnya menjadi pemilik hak atas wilayah pesisir ini kini hanya menjadi penonton saat lahan hidupnya dikeruk orang lain.
"Ini laut kami, tapi kami tak bisa ambil apa-apa. Yang datang menambang bebas berbuat apa saja, sementara kami yang asli di sini cuma bisa menatap dari tepi. Laut kami dijarah di depan mata sendiri," keluh warga lainnya.
Sebelumnya, Satpolairud Polres Bangka Barat telah melakukan patroli dan penindakan di lokasi. Sebagian ponton sempat diamankan dan dibongkar. Namun warga mempertanyakan: mengapa aktivitas tidak kunjung berhenti? Apakah himbauan yang diberikan belum cukup sampai, atau justru ada pihak yang melindungi sehingga kegiatan ini terus berulang?
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak kepolisian terkait kelanjutan pengawasan di lokasi. Warga berharap aparat tidak hanya datang sesekali, tetapi benar-benar memastikan penghentian total. Bukan sekadar mengurangi jumlah ponton, melainkan memulihkan hak warga atas laut mereka sendiri.

