Sekadau, harian62.info -
Badai El Nino mulai menekan rantai pasok kelapa sawit di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) terpaksa menghentikan sementara operasional penerimaan Tandan Buah Segar (TBS) dari petani karena tangki penyimpanan Crude Palm Oil (CPO) telah penuh.
Kondisi tersebut terjadi setelah distribusi CPO dari PKS menuju tempat penampungan berikutnya mengalami hambatan. Jalur sungai yang selama ini menjadi salah satu akses utama pengangkutan CPO, yakni Sungai Kapuas, mengalami kekeringan sehingga kapal pengangkut tidak dapat beroperasi secara optimal.
Situasi ini membuat petani sawit di Sekadau mulai diliputi kecemasan. Pasalnya, ketika PKS berhenti menerima TBS, buah sawit yang sudah memasuki masa panen berisiko tidak terserap dan akhirnya membusuk di pohon.
Sekretaris Aspek-Pir Kalbar, Prasetijo Hermawan, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar lima hari. Dari sekitar delapan PKS yang beroperasi di wilayah Sekadau, rata-rata sudah tidak menerima TBS dari petani.
Menurut Prasetijo, sejumlah PKS sebenarnya telah berupaya mencari jalan keluar dengan mengalihkan distribusi CPO dari jalur sungai ke jalur darat.
Namun, solusi tersebut menghadapi kendala lain. Ketersediaan truk tangki pengangkut CPO di Kalimantan Barat dinilai tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan seluruh PKS yang terdampak.
Keterbatasan armada membuat proses pengosongan tangki penyimpanan CPO berjalan lambat. Padahal, pengosongan tangki menjadi kunci agar PKS dapat kembali menerima TBS dari petani.
Di sisi lain, kondisi ini mulai dirasakan langsung oleh petani. Prasetijo menyebut sebagian petani terpaksa membiarkan buah sawit yang sudah matang tetap berada di pohon karena tidak ada PKS yang bersedia menerima TBS.
Kondisi tersebut menjadi pukulan bagi petani swadaya yang tidak memiliki hubungan kemitraan langsung dengan PKS. Ketika jalur pemasaran terganggu, petani tidak memiliki banyak pilihan untuk menjual hasil panennya.
(kiki)



