SIMALUNGUN,harian62.info -
Kinerja manajemen perkebunan di lingkungan PTPN IV Regional II Kebun Laras, Kabupaten Simalungun, kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, perhatian tertuju pada kondisi areal Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) yang dinilai tidak terawat dan diduga tidak dikelola sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) perusahaan.
Hasil pantauan tim media pada Sabtu (09/05/2026) sekitar pukul 13.50 WIB di Afdeling I Kebun Laras menemukan sejumlah kondisi yang memantik tanda tanya besar terkait efektivitas pengawasan lapangan. Di lokasi, tampak buah sawit membusuk di pohon, pekerjaan kastrasi yang diduga tidak tuntas, hingga semak belukar yang menutupi area piringan tanaman sampai pasar gawang.
Temuan tersebut memunculkan kekhawatiran berbagai pihak, mengingat fase TBM merupakan tahapan krusial dalam menentukan kualitas pertumbuhan dan produktivitas tanaman sawit ke depan. Jika perawatan tidak berjalan maksimal, kondisi itu dinilai dapat berdampak terhadap potensi kerugian perusahaan serta menurunkan efektivitas target produksi jangka panjang.
Sorotan terhadap kondisi tersebut juga datang dari kalangan aktivis dan pengamat perkebunan. Aktivis LSM Sumatera Utara, Irmayani, menilai dugaan lemahnya pengawasan di lapangan tidak boleh dianggap persoalan biasa.
“Kalau benar ditemukan pekerjaan yang tidak sesuai SOP, maka ini harus menjadi perhatian serius manajemen. Jangan sampai pembiaran justru merugikan perusahaan negara,” ujarnya kepada awak media.
Menurutnya, evaluasi menyeluruh perlu dilakukan, mulai dari sistem pengawasan hingga pelaksanaan teknis di tingkat afdeling. Ia juga mendorong jajaran direksi PalmCo dan manajemen regional turun langsung melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kebun.
“Perawatan TBM bukan pekerjaan sepele. Ini menyangkut masa depan produksi perusahaan. Jika pengawasan lemah, maka dampaknya bisa panjang terhadap kualitas tanaman dan efisiensi perusahaan,” tegasnya.
Sejumlah pengamat perkebunan turut menilai bahwa keberhasilan pengelolaan TBM sangat menentukan keberlanjutan produktivitas kebun sawit. Ketidakteraturan pemeliharaan pada fase awal dinilai dapat memicu pembengkakan biaya perawatan, menurunkan kualitas tanaman, hingga mengganggu capaian produksi di masa mendatang.
Situasi ini pun memunculkan pertanyaan publik terkait konsistensi penerapan SOP dan efektivitas kontrol manajemen di lingkungan PTPN IV Regional II Kebun Laras. Apalagi, sebagai perusahaan perkebunan milik negara, tata kelola profesional dan keterbukaan informasi dinilai menjadi hal yang wajib dijaga.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PTPN IV Regional II Kebun Laras belum memberikan keterangan resmi terkait temuan di lapangan maupun kritik yang disampaikan sejumlah pihak. Media ini masih berupaya melakukan konfirmasi lanjutan guna memperoleh penjelasan yang berimbang sesuai prinsip cover both sides dan kode etik jurnalistik.
(Tim)

0 Komentar