Stok Pangan DKI Diklaim Aman 182 Ribu Ton, Publik Diminta Awasi Distribusi dan Potensi Spekulasi Harga

Jakarta,harian62.info – 

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengklaim ketersediaan stok pangan menjelang Imlek, Ramadan dan Idulfitri 1447 H dalam kondisi aman. Total stok beras dilaporkan mencapai 182.172 ton. Namun, efektivitas distribusi dan pengawasan harga di tingkat pasar menjadi sorotan, mengingat lonjakan kebutuhan diprediksi meningkat signifikan.


Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Uus Kuswanto, menyatakan koordinasi lintas BUMD pangan diperkuat guna mencegah gejolak harga dan memastikan pasokan tidak terganggu.


“Tidak ada alasan kebutuhan pokok masyarakat tidak terpenuhi,” tegasnya dalam diskusi di Balai Kota, Rabu (11/2).


Lonjakan Permintaan dan Titik Rawan Inflasi

Data Pemprov DKI menunjukkan kenaikan kebutuhan menjelang Idulfitri mencapai dua digit pada sejumlah komoditas strategis. Telur ayam diperkirakan melonjak 17,20 persen, daging ayam 10,77 persen, bawang merah 10,67 persen, minyak goreng 9,67 persen, serta cabai rawit 9,18 persen.


Secara ekonomi, kenaikan permintaan dalam waktu singkat membuka ruang terjadinya:

  • Penahanan stok di tingkat distributor,
  • Disparitas harga antara gudang dan pasar eceran,
  • Permainan rantai distribusi,
  • Serta lonjakan harga spekulatif.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa ketersediaan stok tidak selalu berbanding lurus dengan stabilitas harga di pasar tradisional.


Stok Besar, Ujian di Lapangan

Pemprov mencatat stok beras berasal dari berbagai simpul, termasuk Bulog 141.823 ton dan Pasar Induk Beras Cipinang 40.088 ton. Namun, pertanyaan krusialnya adalah:

seberapa cepat dan efektif stok tersebut dapat digelontorkan ketika harga mulai bergerak naik?


Distribusi pangan di Jakarta melibatkan rantai panjang dari importir, distributor besar, pedagang grosir, hingga pengecer. Pada titik-titik inilah potensi hambatan dan permainan harga kerap terjadi.


Pengawasan LPG 3 Kg dan Komoditas Sensitif

Selain bahan pokok, pengawasan LPG 3 kilogram juga menjadi perhatian karena sering terjadi kelangkaan menjelang hari besar keagamaan. Kelangkaan LPG subsidi berpotensi memicu kenaikan biaya produksi makanan, yang pada akhirnya berdampak pada harga jual di pasar.


Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) disebut akan melakukan pemantauan rutin, operasi pasar, bazar murah, serta penguatan urban farming. Namun efektivitas langkah tersebut akan sangat bergantung pada konsistensi pengawasan dan keberanian penindakan terhadap pelaku penimbunan.


Ekonomi Tumbuh 5,21 Persen, Inflasi Jadi Ujian

Pemprov DKI mencatat pertumbuhan ekonomi Jakarta mencapai 5,21 persen, melampaui nasional. Capaian ini menjadi modal positif, tetapi stabilitas harga pangan dalam momentum Ramadan–Idulfitri akan menjadi ujian nyata daya tahan ekonomi daerah.


Transparansi data distribusi, pengawasan lapangan, dan keterbukaan informasi publik dinilai penting untuk mencegah spekulasi serta menjaga kepercayaan masyarakat.


Dengan lonjakan permintaan yang sudah terproyeksi, publik kini menunggu pembuktian: apakah stok 182 ribu ton benar-benar mampu meredam gejolak harga, atau justru kembali memunculkan disparitas antara klaim ketersediaan dan realitas di pasar.


(RA)

0 Komentar

KLIK DISINI untuk bergabung