Kepri,harian62.info -
Penambangan pasir laut merupakan salah satu aktivitas pemanfaatan sumber daya alam yang dilakukan di wilayah perairan pesisir dan laut dangkal. Pasir laut umumnya dimanfaatkan untuk kebutuhan konstruksi, reklamasi, dan pembangunan infrastruktur. Namun, aktivitas ini memiliki dampak signifikan terhadap ekosistem laut dan kualitas lingkungan apabila tidak dikelola secara berbasis kajian lingkungan yang memadai. Di Indonesia, penambangan pasir laut menjadi isu penting karena berkaitan langsung dengan degradasi ekosistem pesisir, perubahan dinamika sedimen, dan peningkatan risiko abrasi pantai.
Penambangan pasir laut adalah kegiatan pengambilan material pasir dari dasar laut, umumnya di perairan dangkal hingga menengah, baik di sekitar wilayah pesisir maupun laut lepas yang masih berada dalam pengaruh dinamika pantai. Secara alami, pasir laut berperan penting dalam menjaga keseimbangan sedimen, stabilitas dasar perairan, serta melindungi wilayah pesisir dari energi gelombang. Pengambilan pasir laut dalam jumlah besar dapat mengganggu keseimbangan sistem laut dan pesisir yang saling terhubung.
Dasar laut merupakan habitat bagi berbagai organisme bentik seperti moluska, krustasea, dan mikroorganisme. Aktivitas penambangan pasir laut dapat merusak habitat ini secara langsung melalui pengerukan, sehingga menurunkan keanekaragaman hayati dan produktivitas ekosistem laut. Perubahan struktur dasar laut juga dapat mempengaruhi rantai makanan dan keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
Penambangan pasir laut berdampak tidak hanya pada lokasi penambangan, tetapi juga pada ekosistem pesisir di sekitarnya. Berkurangnya pasokan sedimen ke pantai dapat mengganggu keseimbangan alami antara erosi dan sedimentasi, sehingga meningkatkan risiko abrasi pantai. Ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang dapat terdampak secara tidak langsung akibat perubahan dinamika sedimen dan kualitas perairan.
Proses pengerukan pasir laut menyebabkan resuspensi sedimen yang meningkatkan kekeruhan perairan. Kondisi ini dapat menghambat penetrasi cahaya matahari, mengganggu proses fotosintesis organisme laut, dan menurunkan kualitas habitat perairan, terutama di wilayah laut dangkal. Peningkatan total padatan tersuspensi (TSS) serta perubahan karakteristik fisik perairan dapat memicu stres pada organisme laut dan berdampak luas pada keseimbangan ekosistem.
Pengambilan pasir dalam skala besar juga dapat mengubah morfologi dasar laut, seperti terbentuknya cekungan atau perubahan kontur perairan. Perubahan ini dapat mempengaruhi pola arus laut, distribusi sedimen, serta stabilitas wilayah pesisir dalam jangka panjang. Pasir laut merupakan bagian dari sistem sedimen yang menopang kestabilan pantai, sehingga penambangan yang tidak terkendali dapat mengurangi pasokan sedimen ke pantai, mempercepat proses abrasi, dan meningkatkan kerentanan wilayah pesisir terhadap gelombang ekstrem serta banjir rob.
Tambang pasir laut seperti yang terjadi di wilayah Karimun dengan menggunakan skema Izin Pertambangan Rakyat (IPR) juga harus menjadi perhatian serius. IPR pada dasarnya diperuntukkan bagi kegiatan pertambangan skala kecil yang dilakukan oleh masyarakat setempat dengan wilayah dan kapasitas terbatas. Namun, apabila praktik di lapangan melibatkan alat berat, kapal pengeruk berskala besar, atau volume produksi yang masif, maka perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kesesuaian izin, kepatuhan terhadap dokumen lingkungan, serta dampak kumulatif yang ditimbulkan terhadap ekosistem pesisir.
Pengawasan terhadap pelaksanaan IPR di wilayah pesisir dan laut harus dilakukan secara ketat, termasuk memastikan adanya kajian lingkungan seperti AMDAL atau UKL-UPL yang komprehensif, pemantauan kualitas air laut secara berkala, serta transparansi data produksi dan distribusi material pasir. Tanpa kontrol yang tegas, skema perizinan yang seharusnya melindungi kepentingan masyarakat justru berpotensi menjadi celah eksploitasi sumber daya alam yang merugikan lingkungan dan generasi mendatang.
Penambangan pasir laut memiliki dampak nyata terhadap ekosistem laut dan kualitas lingkungan, mulai dari kerusakan habitat dasar laut, penurunan kualitas air, hingga peningkatan risiko abrasi pantai. Oleh karena itu, penerapan pengelolaan lingkungan yang berbasis ilmu pengetahuan, pengawasan ketat terhadap perizinan termasuk IPR, serta penegakan hukum yang konsisten menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir Indonesia.
(MR W)



