PONTIANAK, Harian62.info -
Persaingan memperebutkan jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalimantan Barat tahun 2026 semakin menjadi perhatian publik. Dari 12 pejabat yang mengikuti seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Madya tersebut, muncul nama Dr. Yan, S.Sos., M.Si., birokrat yang membawa pengalaman pemerintahan dari Kabupaten Bengkayang untuk bersaing di tingkat provinsi.
Kehadiran Dr. Yan dalam kontestasi jabatan strategis tersebut menarik untuk dicermati. Bukan semata karena latar belakangnya sebagai pejabat dari daerah, melainkan juga perjalanan pendidikan akademis, pengalaman menduduki sejumlah jabatan pemerintahan, serta rekam jejak pengembangan kompetensi melalui pelatihan internasional Japan International Cooperation Agency (JICA) di Hiroshima dan Tokyo, Jepang.
Kombinasi pengalaman birokrasi, pendidikan formal, dan wawasan internasional menjadi bagian dari profil yang patut diperhatikan dalam melihat kapasitas seorang calon pemimpin administrasi pemerintahan daerah.
Lantas, siapa sebenarnya Dr. Yan? Bagaimana perjalanan karier, latar belakang pendidikan, serta pengalaman yang menjadi bekalnya dalam mengikuti seleksi Sekda Kalimantan Barat?
JEJAK AKADEMIS: DARI SARJANA HINGGA DOKTOR
Dr. Yan, S.Sos., M.Si., memiliki latar belakang pendidikan yang menunjukkan perjalanan panjang dalam pengembangan kapasitas akademis dan profesional.
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos.), Magister Sains (M.Si.), hingga gelar Doktor (Dr.) menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya dalam memperkuat pemahaman terhadap persoalan sosial, pemerintahan, dan pembangunan.
Pendidikan formal tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi seorang aparatur sipil negara (ASN), khususnya dalam menghadapi dinamika penyelenggaraan pemerintahan yang semakin kompleks.
Namun, kapasitas seorang birokrat tidak hanya diukur dari gelar akademis yang disandang. Kemampuan menerjemahkan pengetahuan menjadi kebijakan, mengambil keputusan, membangun koordinasi, serta menyelesaikan persoalan masyarakat merupakan ukuran penting dari kualitas kepemimpinan birokrasi.
PELATIHAN INTERNASIONAL JICA DI HIROSHIMA DAN TOKYO
Salah satu bagian menarik dalam perjalanan pengembangan kompetensi Dr. Yan adalah pengalamannya mengikuti pelatihan internasional melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) di Hiroshima dan Tokyo, Jepang.
Pelatihan tersebut berkaitan dengan otonomi daerah dan pelayanan publik, dua aspek fundamental dalam membangun tata kelola pemerintahan yang efektif, transparan, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Pengalaman belajar di Jepang memberikan kesempatan untuk mengenal perspektif pengelolaan pemerintahan daerah, penguatan kelembagaan, kedisiplinan birokrasi, serta pendekatan pelayanan masyarakat.
Jepang sendiri dikenal memiliki pengalaman dalam membangun sistem administrasi dan pelayanan publik yang terorganisasi. Karena itu, wawasan internasional tersebut menjadi bekal pengetahuan yang relevan bagi seorang birokrat.
Meski demikian, nilai sesungguhnya dari pengalaman pelatihan internasional bukan terletak pada tempat seseorang pernah belajar, melainkan sejauh mana pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Dalam konteks persaingan Sekda Kalbar, pengalaman tersebut tentu menarik untuk diuji melalui gagasan, visi, dan kemampuan Dr. Yan dalam menjawab tantangan pemerintahan daerah.
PERJALANAN KARIER: DARI KEPALA DINAS PENDIDIKAN HINGGA STAF AHLI BUPATI
Dalam perjalanan karier birokrasi di Kabupaten Bengkayang, Dr. Yan pernah dipercaya menduduki jabatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang.
Posisi tersebut merupakan salah satu jabatan strategis dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah, khususnya sektor pendidikan dan kebudayaan.
Tanggung jawab di bidang tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan mutu pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, pembinaan tenaga pendidik, penguatan kelembagaan pendidikan, hingga peningkatan kualitas pelayanan pendidikan bagi masyarakat.
Pengalaman memimpin perangkat daerah memberikan ruang bagi seorang pejabat untuk mengembangkan kemampuan manajerial, mengoordinasikan sumber daya aparatur, serta menerjemahkan kebijakan pemerintah menjadi program kerja.
Perjalanan kariernya kemudian berlanjut. Pada Maret 2025, Dr. Yan dilantik sebagai Staf Ahli Bupati Bengkayang Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan.
Dalam jabatan tersebut, ruang lingkup tugasnya berkaitan dengan pemberian telaahan, pertimbangan, serta rekomendasi kepada kepala daerah sesuai bidang tugasnya.
Posisi staf ahli memiliki peran penting dalam mendukung proses pengambilan keputusan kepala daerah melalui analisis kebijakan dan pertimbangan strategis.
Pengalaman di sektor pendidikan, kemudian berlanjut pada bidang pembangunan, ekonomi, dan keuangan, memperlihatkan keterlibatan Dr. Yan dalam beberapa bidang penting penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Bengkayang.
### MASUK DALAM 12 KANDIDAT SEKDA KALBAR, RAIH NILAI 85,80
Nama Dr. Yan semakin mendapat perhatian setelah tercatat sebagai salah satu dari 12 pejabat yang mengikuti seleksi terbuka jabatan Sekda Provinsi Kalimantan Barat tahun 2026.
Ia menjadi salah satu dari lima kandidat yang berasal dari lingkungan pemerintahan kabupaten.
Dalam pengumuman hasil seleksi penulisan makalah, Dr. Yan memperoleh nilai 85,80.
Nilai tersebut menjadi salah satu capaian dalam tahapan seleksi yang telah diikutinya. Namun, persaingan menuju kursi Sekda tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademis maupun hasil penulisan makalah.
Jabatan Sekda merupakan posisi strategis yang menuntut kemampuan kepemimpinan tingkat tinggi, pengalaman manajerial, integritas, kecakapan komunikasi, serta kemampuan mengoordinasikan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).
Seorang Sekda juga harus mampu memastikan kebijakan kepala daerah berjalan secara efektif, program pembangunan terlaksana sesuai perencanaan, serta administrasi pemerintahan dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Karena itu, setiap kandidat perlu dinilai secara menyeluruh berdasarkan kompetensi, rekam jejak, integritas, dan kemampuan kepemimpinan.
TANTANGAN SEKDA KALBAR: TIDAK SEKADAR KUAT DALAM ADMINISTRASI
Kalimantan Barat membutuhkan sosok Sekda yang mampu menjawab tantangan pembangunan daerah dengan pendekatan strategis dan berorientasi pada hasil.
Wilayah Kalimantan Barat yang luas, kondisi geografis yang beragam, persoalan pembangunan kawasan perbatasan, pemerataan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga penguatan ekonomi masyarakat merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan koordinasi lintas sektor.
Di sisi lain, reformasi birokrasi, peningkatan profesionalitas ASN, penguatan pengawasan internal, efektivitas penggunaan anggaran, serta percepatan pelayanan publik juga menjadi agenda penting pemerintahan daerah.
Sekda bukan sekadar pejabat administratif. Ia merupakan motor koordinasi birokrasi yang harus mampu menjembatani kebijakan kepala daerah dengan pelaksanaan program oleh seluruh perangkat daerah.
Dalam konteks tersebut, pengalaman Dr. Yan sebagai mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, serta bekal pendidikan dan pelatihan internasional menjadi bagian dari rekam jejak yang patut diperhitungkan.
Namun, pertanyaan mendasarnya tetap sama: sejauh mana pengalaman tersebut dapat diterjemahkan menjadi kemampuan memimpin birokrasi pemerintahan provinsi yang memiliki tantangan jauh lebih luas dan kompleks?
PELUANG PUTRA DAERAH DAN UJIAN KAPASITAS KEPEMIMPINAN
Keikutsertaan Dr. Yan dalam seleksi Sekda Kalbar membawa dinamika tersendiri, khususnya bagi Kabupaten Bengkayang.
Kehadirannya menunjukkan bahwa pejabat dari lingkungan pemerintahan kabupaten memiliki kesempatan untuk berkompetisi memperebutkan jabatan strategis di tingkat provinsi melalui mekanisme seleksi terbuka.
Meski demikian, asal daerah bukanlah faktor utama dalam menentukan kelayakan seorang kandidat. Yang jauh lebih penting adalah kompetensi, integritas, pengalaman kepemimpinan, kemampuan manajerial, serta rekam jejak profesional.
Bagi Dr. Yan, persaingan ini menjadi momentum untuk memperlihatkan sejauh mana pengalaman birokrasi yang dibangun di Kabupaten Bengkayang dapat menjawab kebutuhan tata kelola pemerintahan Kalimantan Barat.
Pendidikan doktoral dan pengalaman pelatihan internasional JICA merupakan bekal yang menarik. Akan tetapi, keduanya tetap harus berjalan seiring dengan kemampuan nyata dalam memimpin, mengoordinasikan, dan menghasilkan perubahan birokrasi.
PUBLIK MENUNGGU SEKDA YANG BERINTEGRITAS DAN BERORIENTASI PADA HASIL
Pada akhirnya, seleksi Sekda Kalimantan Barat bukan sekadar kompetisi memperebutkan jabatan, melainkan proses menentukan figur yang akan memegang peran penting dalam menggerakkan roda administrasi pemerintahan provinsi.
Masyarakat membutuhkan Sekda yang tidak hanya cakap dalam administrasi, tetapi juga memiliki integritas, keberanian mengambil keputusan, kemampuan menyelesaikan persoalan lintas sektor, serta komitmen kuat terhadap pelayanan publik.
Dr. Yan merupakan salah satu kandidat dengan latar belakang pengalaman birokrasi dari Kabupaten Bengkayang, pendidikan akademis hingga jenjang doktoral, serta pengalaman pelatihan internasional JICA di Jepang.
Seluruh rekam jejak tersebut menjadi modal profesional yang layak dicermati. Namun, penilaian akhir tetap harus berpijak pada hasil seleksi, kemampuan kepemimpinan, rekam jejak kinerja, dan pemenuhan persyaratan jabatan.
Apakah pengalaman birokrasi Dr. Yan dari Bengkayang, ditambah wawasan pendidikan dan pelatihan internasional di Jepang, mampu mengantarkannya menuju kursi Sekda Kalimantan Barat?
Jawabannya berada pada proses seleksi yang harus berlangsung secara profesional, transparan, objektif, akuntabel, dan berlandaskan sistem merit.
Satu hal yang pasti, Kalimantan Barat membutuhkan Sekda terbaik: sosok yang mampu bekerja, bukan sekadar menjabat; mampu mengoordinasikan, bukan sekadar memerintah; serta mampu menghadirkan birokrasi yang profesional dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.(Bsg)


