H62 Info Pontianak — IAIN Pontianak memperkuat komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui pengembangan ekoteologi dengan melibatkan sejumlah tokoh lintas agama di Kalimantan Barat.
Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.A., menggelar pertemuan bersama sejumlah tokoh agama di Ruang Rapat Rektor IAIN Pontianak, Kamis (13/8/2026). Pertemuan tersebut membahas penguatan ekoteologi sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga lingkungan melalui perspektif keagamaan.
Pertemuan itu turut melibatkan Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalimantan Barat, Ketua FKUB Kalbar, Ketua MUI Kalbar, Ketua PGI Kalbar, unsur KWI/Keuskupan Agung dan FKUB dari unsur Katolik, Ketua WALUBI Kalbar, Ketua PHDI Kalbar, serta Ketua MATakin Kalbar.
Prof. Wajidi mengatakan, penguatan ekoteologi penting dikembangkan seiring dengan kondisi lingkungan di Kalimantan Barat yang membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama.
Menurutnya, ekoteologi memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai agama serta tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestarian alam.
Ia menyebut penguatan ekoteologi juga sejalan dengan salah satu program yang menjadi perhatian Kementerian Agama. Karena itu, IAIN Pontianak dinilai memiliki posisi strategis untuk mengembangkan kajian sekaligus mendorong gerakan nyata di tengah masyarakat.
Sebagai langkah awal, IAIN Pontianak berencana menggelar seminar ekoteologi dengan melibatkan tokoh lintas agama dan berbagai elemen masyarakat. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus memperkuat pemahaman mengenai hubungan agama, manusia, dan kelestarian lingkungan.
Selain seminar, IAIN Pontianak juga membuka peluang kerja sama melalui nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan berbagai majelis dan tokoh agama.
“Harapan kami, kita dapat membangun MoU kepada semua majelis atau tokoh besar untuk menunjang perubahan kami ke skala universitas,” ujar Prof. Wajidi.
Menurutnya, penguatan kolaborasi lintas agama tersebut tidak terlepas dari agenda besar IAIN Pontianak dalam menyongsong transformasi kelembagaan menjadi universitas.
Transformasi tersebut diharapkan semakin membuka ruang bagi keberagaman disiplin ilmu, perspektif keagamaan, serta kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat.
“Karena setelah menjadi universitas, kami akan menampung semua keberagaman itu di sini,” tambahnya.
Ke depan, Prof. Wajidi berharap para tokoh agama dapat terus membangun budaya saling mengingatkan mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Perspektif dari berbagai agama dinilai dapat memperkaya pemahaman masyarakat mengenai ekoteologi sesuai nilai dan ajaran masing-masing.
Pertemuan tersebut sekaligus menegaskan komitmen IAIN Pontianak untuk menjadikan ekoteologi bukan sekadar kajian akademik, tetapi bagian dari gerakan kolaboratif dalam membangun kepedulian dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan di Kalimantan Barat.(R Sutisna Hamijaya)
Sumber : Humas IAIN Pontianak



