Kekerasan di Sekolah Kembali Terungkap, Orang Tua Minta Dinas Pendidikan Turun Tangan.
Perlindungan Anak Dipertanyakan, Guru Akui Membakar Rambut Siswa sebagai Bentuk Pembinaan.
Bagi sang ibu, Regina Rumbiak, apa yang dialami putranya bukan sekadar masalah pelanggaran aturan, melainkan kejahatan kemanusiaan yang meninggalkan luka batin mendalam.
“Anak saya sempat mogok sekolah selama seminggu karena malu dan trauma luar biasa. Sampai sekarang dia masih takut kalau ketemu orang itu,” ungkap Regina dengan nada emosi, Selasa (12/5/2026).
Kejadian Memilukan di Tengah Lapangan
Peristiwa naas itu terjadi saat apel pagi. PK kedapatan membawa korek api di saku bajunya. Menurut keterangan keluarga, korek itu terbawa karena dipakai menyalakan kompor untuk membuat teh sebelum berangkat sekolah, bukan untuk hal negatif.
Namun, amarah seolah membutakan akal sehat. Seorang guru agama yang kini menjabat Plt Kepala Sekolah, Firdina Panca Febriani, menyeret anak itu ke tengah lapangan.
Dihadapan ratusan siswa dan guru, Firdina mengambil korek api itu lalu membakar rambut PK secara langsung!
Api sempat menyala di atas kepala anak malang itu hingga ia panik bukan main berusaha memadamkannya sendiri. Sungguh pemandangan yang tidak manusiawi dilakukan oleh seorang pendidik!
Saat pulang, Regina melihat rambut anaknya sudah dipotong rapi seolah ingin menutupi jejak kejahatan. Tapi yang tak bisa disembunyikan adalah kondisi fisik PK. Pelipis memerah, pipi lebam, dan anak itu mengaku dipukul habis-habisan.
“Luka fisik bisa sembuh, tapi rasa malunya dipermalukan di depan teman-teman sekelas itu yang paling berat. Dia trauma berat,” tegas Regina.
Pelaku Akui Salah, Tapi Pembelaannya Sangat Menyakitkan
Ketika dikonfrontir, Firdina akhirnya mengakui perbuatannya. Namun, pengakuannya itu justru semakin membuat darah panas.
Ia mengaku memang membakar rambut siswa tersebut, tapi mengklaim itu sebagai bentuk "pembinaan" karena dianggap sering melanggar aturan.
"Saya akui itu salah," ujarnya singkat.
Yang paling keterlaluan, soal dugaan pemukulan hingga wajah lebam dan bengkak, Firdina malah membantah keras dan melempar bola panas. Dia menuduh mungkin pemukulan itu dilakukan oleh guru lain! Seolah-olah dia bersih padahal tangan dialah yang membakar rambut anak itu.
Ia mengaku hanya membawa korban ke barbershop untuk merapikan rambut yang hangus terbakar.
Orang Tua Tuntut Keadilan: Sekolah Bukan Penjara!
Hingga hari ini, keluarga merasa sangat dihina. Permintaan maaf tidak pernah disampaikan secara langsung, hanya lewat perantara wali kelas. Bagaimana mungkin seorang kepala sekolah berani bertindak sewenang-wenang tapi tak punya nyali untuk meminta maaf tatap muka?
Regina mewakili orang tua lain menuntut tanggung jawab penuh.
"Kalau anak salah, didik dengan cara yang manusiawi! Jangan pakai bakar-bakar dan pukul! Sekolah itu tempat belajar, bukan tempat menyiksa dan bikin anak trauma," bentaknya.
Ia berharap Dinas Pendidikan Kota Sorong bertindak tegas. Guru harus dididik ulang soal etika dan hukum perlindungan anak. Jangan sampai jabatan membuat seseorang lupa diri dan bertindak layaknya tiran.
"Anak-anak Papua berhak sekolah dengan aman, berhak tumbuh dengan harga diri. Jangan rusak masa depan mereka dengan kekerasan," pungkas Regina.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Sampai kapan tindakan anarkis seperti ini masih dianggap sebagai "disiplin"? Padahal jelas-jelas itu adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga Pendidikan!

0 Komentar