Harian62.info
Sumut – Pemadaman listrik massal yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra pada Jumat malam (22/5/2026) memicu gelombang keluhan masyarakat dan sorotan tajam terhadap keandalan sistem kelistrikan nasional. Gangguan yang terjadi serentak di wilayah Jambi, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara hingga Aceh itu membuat aktivitas warga, pelayanan publik, hingga sektor usaha lumpuh selama beberapa jam.
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas insiden tersebut. Dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026), Darmawan menyebut gangguan diduga dipicu kerusakan pada ruas transmisi akibat cuaca buruk dan dampak lanjutan bencana banjir bandang yang sebelumnya melanda beberapa wilayah Sumatra.
“Kami sudah mendapatkan arahan dari kementerian agar terus melakukan berbagai langkah untuk mengoreksi dan memperbaiki sistem kelistrikan Sumatra yang mengalami gangguan ini,” ujar Darmawan.
PLN mengklaim bergerak cepat dengan mengerahkan tim teknis ke lapangan sesaat setelah laporan pemadaman diterima. Menurut PLN, proses asesmen dan pemulihan gardu induk serta jaringan transmisi berhasil dilakukan dalam waktu sekitar dua jam.
Namun di tengah klaim pemulihan cepat tersebut, muncul pertanyaan publik mengenai seberapa kuat sebenarnya sistem interkoneksi listrik Sumatra menghadapi cuaca ekstrem dan bencana alam. Pasalnya, pemadaman terjadi hampir bersamaan di beberapa provinsi, menunjukkan adanya potensi kerentanan serius pada sistem transmisi utama.
Sejumlah pengamat energi menilai insiden ini tidak bisa hanya dipandang sebagai gangguan teknis biasa. Ketergantungan tinggi pada jaringan transmisi tertentu dinilai berpotensi menciptakan efek domino ketika satu titik mengalami gangguan. Kondisi ini diperparah oleh cuaca ekstrem yang belakangan semakin sering terjadi.
PLN juga mengungkapkan bahwa beberapa tower transmisi sebelumnya mengalami kerusakan akibat banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Situasi itu disebut mempengaruhi stabilitas distribusi listrik antarwilayah.
Di sisi lain, masyarakat mempertanyakan kesiapan mitigasi dan sistem cadangan PLN. Sebab, pemadaman massal bukan hanya mengganggu rumah tangga, tetapi juga berdampak pada layanan rumah sakit, jaringan komunikasi, aktivitas industri, hingga pelaku UMKM yang bergantung pada listrik.
Dalam penjelasannya, Darmawan menerangkan bahwa tidak semua pembangkit dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Pembangkit listrik tenaga air dan gas disebut lebih cepat dinyalakan kembali, sementara pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara membutuhkan waktu lebih lama karena proses pemanasan boiler sebelum turbin dapat beroperasi.
“Pembangkit-pembangkit yang bisa kami nyalakan dengan cepat, terutama pembangkit hidro dan pembangkit gas, dari tadi malam langsung satu persatu secara sistematis kita nyalakan,” katanya.
Meski pasokan listrik berangsur pulih, insiden ini menjadi alarm keras bagi sektor energi nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan ancaman cuaca ekstrem, publik kini menunggu langkah konkret PLN dan pemerintah untuk memastikan pemadaman massal serupa tidak kembali terulang.
Sebab bagi masyarakat, listrik bukan lagi sekadar kebutuhan pendukung, melainkan urat nadi kehidupan modern yang ketika lumpuh beberapa jam saja, mampu menghentikan hampir seluruh aktivitas ekonomi dan sosial secara bersamaan. (Wall/Rill)

0 Komentar