Pontianak,harian62.info -
Transisi energi di Kalimantan Barat kian mengemuka. Seminar nasional yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalbar bersama Dewan Energi Nasional (DEN) dan Pertamina menegaskan biomassa sebagai solusi strategis di tengah ancaman krisis energi fosil.
Selain itu, ia mengungkap potensi sumber daya strategis seperti uranium atau torium di wilayah Melawi yang dinilai dapat menjadi opsi energi jangka panjang, dengan catatan pengelolaan berbasis riset dan regulasi ketat.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya anggota DEN Muhammad Kholid Syeirazi, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Prof. Dwi Astiani, Ketua STAKat Negeri Pontianak Alfeus Sunarso, serta perwakilan BPK Kalbar Chairil Sutanto.
Dalam paparannya, Prof. Dwi Astiani menegaskan Kalimantan Barat memiliki potensi besar sebagai “lumbung energi” berbasis biomassa. Limbah dari sektor kehutanan, pertanian, dan perkebunan dinilai mampu menjadi sumber energi berkelanjutan, terutama bagi wilayah pedesaan.
Menurutnya, biomassa memiliki keunggulan karena relatif netral karbon. Namun, tantangan utama terletak pada distribusi bahan baku yang tersebar. Solusi yang ditawarkan adalah pengembangan pembangkit biomassa skala kecil berbasis lokal.
Di sisi lain, Dewan Energi Nasional memaparkan strategi transisi energi nasional, termasuk opsi pengembangan energi nuklir sebagai solusi jangka panjang, serta perlunya reformasi subsidi BBM agar lebih tepat sasaran.
Seminar ini sekaligus membuka peluang ekonomi hijau bagi generasi muda, mulai dari pengelolaan biogas, produksi biomassa, hingga bisnis berbasis karbon.
“Energi fosil akan habis, tetapi limbah akan terus ada. Ini peluang yang harus dimanfaatkan,” pungkas Prof. Dwi.
Editor: Heri

0 Komentar