UNU Kalbar–DEN–Pertamina Dorong Transisi Energi, Biomassa Disebut Kunci Kemandirian

 

H62 Info Pontianak — Transisi energi di Kalimantan Barat kian mengemuka. Seminar nasional yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalbar bersama Dewan Energi Nasional (DEN) dan Pertamina menegaskan biomassa sebagai solusi strategis di tengah ancaman krisis energi fosil.

Isi Berita:
Seminar Nasional bertema “Akselerasi Transisi Energi di Kalimantan Barat: Tantangan dan Peluang Investasi” digelar di Hotel Golden Tulip Pontianak, Sabtu (18/4). Kegiatan ini mempertemukan akademisi, pemerintah, dan pemangku kebijakan untuk membahas arah kebijakan energi berkelanjutan di daerah.

Rektor UNU Kalbar, Prof. Dr. Sukino, M.Ag, menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar isu teknis, melainkan juga tanggung jawab moral.
“Peralihan ke energi terbarukan adalah bagian dari menjaga keberlanjutan lingkungan dan masa depan generasi,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, SH, menyatakan pemerintah daerah mendukung percepatan transisi energi. Ia menyoroti potensi energi surya di wilayah khatulistiwa, serta peluang biomassa dan energi air sebagai sumber alternatif.
“Kita harus mulai mengurangi ketergantungan pada energi fosil secara bertahap,” tegasnya.

Selain itu, ia mengungkap potensi sumber daya strategis seperti uranium atau torium di wilayah Melawi yang dinilai dapat menjadi opsi energi jangka panjang, dengan catatan pengelolaan berbasis riset dan regulasi ketat.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya anggota DEN Muhammad Kholid Syeirazi, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Prof. Dwi Astiani, Ketua STAKat Negeri Pontianak Alfeus Sunarso, serta perwakilan BPK Kalbar Chairil Sutanto.

Dalam paparannya, Prof. Dwi Astiani menegaskan Kalimantan Barat memiliki potensi besar sebagai “lumbung energi” berbasis biomassa. Limbah dari sektor kehutanan, pertanian, dan perkebunan dinilai mampu menjadi sumber energi berkelanjutan, terutama bagi wilayah pedesaan.

Ia juga mengingatkan cadangan minyak bumi yang kian menipis menjadi ancaman serius bagi ketahanan energi nasional.
“Kita tidak bisa menunggu sampai energi fosil habis. Energi alternatif harus dibangun dari sekarang,” ujarnya.

Menurutnya, biomassa memiliki keunggulan karena relatif netral karbon. Namun, tantangan utama terletak pada distribusi bahan baku yang tersebar. Solusi yang ditawarkan adalah pengembangan pembangkit biomassa skala kecil berbasis lokal.

Prof. Dwi juga menekankan pentingnya regulasi agar pengembangan energi tidak mengganggu ketahanan pangan.
“Pemanfaatan harus fokus pada limbah dan lahan marjinal, bukan mengorbankan lahan produktif,” tegasnya.

Di sisi lain, Dewan Energi Nasional memaparkan strategi transisi energi nasional, termasuk opsi pengembangan energi nuklir sebagai solusi jangka panjang, serta perlunya reformasi subsidi BBM agar lebih tepat sasaran.

Seminar ini sekaligus membuka peluang ekonomi hijau bagi generasi muda, mulai dari pengelolaan biogas, produksi biomassa, hingga bisnis berbasis karbon.

“Energi fosil akan habis, tetapi limbah akan terus ada. Ini peluang yang harus dimanfaatkan,” pungkas Prof. Dwi.

Editor: Heri


0 Komentar

KLIK DISINI untuk bergabung