Pontianak,harian62.info -
Suyanto Tanjung resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Indonesia periode 2025–2030. Pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua Dewan Kehormatan MABT, DR (HC) Oesman Sapta, bertempat di Hotel Novotel Pontianak, Selasa (10/2/2026).
Usai pelantikan, Suyanto Tanjung menegaskan bahwa MABT Indonesia hadir sebagai wadah pelestarian adat dan budaya Tionghoa yang berakar kuat pada nilai-nilai kebangsaan, serta berkomitmen menjaga persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kalimantan Barat disebut sebagai salah satu daerah awal pengembangan organisasi tersebut.
“Alasan kami menggunakan nama Budaya Tionghoa Indonesia adalah karena visi besar kami untuk menyebarluaskan organisasi ini ke seluruh wilayah Indonesia,” tegas Suyanto Tanjung.
Ia menjelaskan, Kalimantan Barat akan menjadi prioritas awal konsolidasi, sebelum MABT Indonesia melakukan ekspansi ke sejumlah provinsi strategis seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sumatera Selatan, hingga Bangka Belitung.
Menurut Suyanto, dalam waktu dekat kepengurusan DPP MABT Indonesia akan fokus pada penguatan internal organisasi, sekaligus membangun sinergi dengan tokoh-tokoh masyarakat lintas daerah. Langkah ini dinilai penting guna membentuk organisasi yang solid, berkelanjutan, dan memiliki peran nyata di tingkat nasional.
“Setiap manusia hidup dengan adat dan istiadat. Warisan budaya leluhur tidak boleh tergerus oleh arus modernisasi. Jika generasi muda tidak diajarkan dan diingatkan sejak dini, maka ini akan menjadi persoalan serius di masa depan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa salah satu nilai utama yang harus dijaga dan diwariskan adalah sikap saling menghormati dan menghargai antar etnis serta antarbudaya.
Imlek dan Ramadhan, Simbol Nyata Toleransi dan Kebersamaan
Suyanto Tanjung juga menyoroti momentum unik perayaan Imlek tahun ini yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Menurutnya, hal tersebut merupakan cerminan indahnya toleransi dan harmoni sosial di Indonesia.
“Alangkah indahnya ketika saudara-saudara Tionghoa yang merayakan Imlek dan Cap Go Meh mengundang sahabat-sahabat Muslim untuk berbuka puasa bersama di rumah. Kita yang menyiapkan hidangan untuk mereka. Ini adalah simbol persaudaraan yang nyata,” tuturnya.
Ia menilai, kebersamaan semacam ini mampu mempererat hubungan antarsuku dan antarumat beragama, sekaligus menegaskan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu.
“Imlek memang identik dengan kebahagiaan, salah satunya melalui tradisi mengenakan pakaian baru. Namun kebahagiaan yang paling hakiki adalah kebahagiaan karena kebersamaan,” pungkas Suyanto Tanjung.
(Bsg)


0 Komentar