Yahya Zaini Desak Audit Program MBG Usai Kasus Keracunan Massal Siswa di Kupang

Jakarta,harian62.info -

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan audit menyeluruh terkait kandungan gizi dan standar keamanan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini menyusul kembali terjadinya keracunan makanan menu MBG di sejumlah daerah. Menurutnya, audit kandungan menu menjadi krusial untuk memastikan makanan tidak terkontaminasi bahan berbahaya.



"Audit keamanan kandungan menu MBG menjadi langkah krusial untuk memastikan bahwa makanan yang diberikan tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi anak, tetapi juga bebas dari kontaminan dan bahan berbahaya yang dapat mengancam kesehatan," kata Yahya dalam siaran pers, Senin (4/8/2025). Yahya lalu memerinci kasus keracunan yang kembali terjadi. Pertama, kasus keracunan menu MBG yang menimpa 186 siswa SMPN 8 Kota Kupang.



Para siswa harus dirawat di sejumlah rumah sakit lantaran merasakan mual, lemas, buang air besar terus-menerus, dan dehidrasi. Mereka diduga keracunan setelah mengonsumsi daging sapi dan sayuran dari paket MBG. Peristiwa keracunan lainnya dilaporkan terjadi di SDN Tenau Kota Kupang dan SMAN 1 Taebenu, Kabupaten Kupang. Selain di Kupang, ratusan anak keracunan MBG juga terjadi di SMAN 1 Kota Tambolaka, SMKN 2 Kota Tambolaka, dan SMK Don Bosco di Kabupaten Sumba Barat Daya.



Atas rentetan kejadian MBG, Yahya mendorong BGN menerapkan sistem pengawasan yang lebih ketat dan terintegrasi sepanjang rantai distribusi makanan. Khususnya kata dia, di wilayah rawan seperti NTT dan daerah-daerah terpencil lainnya. "Kelemahan dalam pengelolaan distribusi sering kali menjadi celah munculnya risiko keracunan dan gangguan kesehatan lainnya," ucapnya.



Pimpinan Komisi Kesehatan DPR itu berharap proses pengiriman, penyimpanan, dan penyajian MBG dapat berjalan sesuai standar keamanan pangan yang berlaku melalui pengawasan ketat. Menurutnya, keterlibatan tenaga kesehatan pada pengawasan program MBG juga bisa menjadi garda terdepan dalam merespons cepat penanganan apabila terjadi kasus keracunan atau gangguan kesehatan. "Peran nakes sangat vital dalam mengidentifikasi penyebab masalah, memberikan pertolongan medis, dan melakukan edukasi kepada sekolah serta keluarga terkait pencegahan," imbuh Yahya.



Terbaru, keracunan menu ini terjadi di Kupang, NTT, yang dirasakan oleh ratusan siswa. Akibat kejadian itu, Badan Gizi Nasional (BGN) meminta maaf. Permintaan maaf dilakukan oleh Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), Tigor Pangaribuan bersama sejumlah pejabat lain ketika mendatangi sekolah menengah pertama (SMP) Negeri 8 Kota Kupang, Senin (4/8/2025). "Saya mewakili Kepala Badan Gizi Nasional dan para pimpinan lain, mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada orangtua siswa yang terdampak dari insiden yang terjadi di SMP Negeri 8 Kota Kupang," kata Tigor dalam jumpa pers di SMP Negeri 8 Kota Kupang.



Menurut Tigor, BGN sudah membuat standar operasional prosedur ataupun petunjuk teknis dalam pelaksanaan makan bergizi gratis. Dia menduga, saat proses distribusi, makanan yang dibawa itu terkontaminasi.



Dengan adanya kejadian itu, pihaknya akan mengevaluasi satu demi satu. Termasuk juga perbaikan internal di SPPG yang menjalankan program MBG, sehingga kejadian insiden serupa tidak terulang lagi.



Dia pun berterima kasih kepada kepala sekolah dan komite sekolah SMP Negeri 8 Kota Kupang yang memberikan banyak masukan. "Banyak sekali yang kami review. Tapi yang paling penting adalah kerjasama dengan pihak kepala sekolah dalam konteks penerimaan. Bagaimana makanan itu diterima di sekolah," kata dia.


Sumber : Kompas.com

0 Komentar

KLIK DISINI untuk bergabung