AIMAS – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Papua Barat Daya resmi meresmikan Rumah Maggot Keli yang berlokasi di Jalan Jambu, Aimas, pada Kamis (30/4/2026). Kehadiran fasilitas ini merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah, khususnya jenis sampah organik.
Kepala Dinas LHK Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, memaparkan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan melihat masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang dan mengelola sampah.
"Ini berawal dari kegelisahan kami melihat masih banyak masyarakat yang belum disiplin. Karena itu, kami mencari solusi yang efektif, salah satunya melalui pemanfaatan maggot untuk mengurai sampah organik," ujar Kelly.
Teknologi maggot dinilai sangat efisien karena mampu mengurai berbagai jenis sampah organik, mulai dari sisa dapur rumah tangga, limbah pasar, hotel, hingga rumah sakit dalam waktu yang relatif singkat. Bahkan, dalam kondisi optimal, sampah dapat terurai sempurna hanya dalam waktu 24 jam.
Manfaat Ganda: Solusi Lingkungan dan Ekonomi
Tidak hanya berfungsi sebagai pengurai sampah, teknologi ini juga memberikan dampak ekonomi yang positif. Hasil proses pengolahan dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik yang murah dan ramah lingkungan, yang terbukti mampu meningkatkan kualitas hasil panen, seperti pada budidaya semangka.
Selain itu, maggot memiliki kandungan protein tinggi berkisar 40–60 persen, sehingga sangat ideal dijadikan sebagai pakan ternak ayam, bebek, maupun ikan. Siklus ini menciptakan ekosistem ekonomi berkelanjutan, mulai dari pengolahan limbah hingga produksi pangan.
"Ini solusi sekali jalan untuk beberapa sektor sekaligus, mulai dari lingkungan, pertanian, hingga peternakan," tambahnya.
Kapasitas Luar Biasa, Jadi Pilot Project
Rumah Maggot Keli dibangun dengan ukuran 15 meter x 9 meter. Fasilitas ini memiliki kapasitas luar biasa, mampu mengolah sekitar 400 hingga 500 kilogram sampah organik per hari, dengan produksi maggot mencapai sekitar 50 kilogram.
Menurut Kelly, fasilitas ini merupakan rumah maggot terbesar yang ada di Tanah Papua saat ini. Ke depannya, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya berencana menjadikan lokasi ini sebagai proyek percontohan (pilot project).
"Kami berharap daerah lain juga bisa mengikuti langkah ini untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat," tutup Kelly.

.jpg)
0 Komentar