Menjaga Jejak, Merawat Ingatan

 


Di sebuah ruangan sempit di Kalimantan Barat, waktu seakan melambat. Deretan pusaka tersusun rapi Hb—keris berbalut kain lusuh, naskah tua dengan tinta yang mulai pudar, hingga peralatan adat yang nyaris dilupakan zaman. Di ruang itulah, Heri Sugiarto bekerja dalam senyap, merawat apa yang hampir terhapus dari ingatan.

Sejak 2021, Heri memilih jalan sunyi: melestarikan pusaka. Pilihan yang tak populer di tengah generasi yang lebih akrab dengan layar gawai dibanding lembar sejarah.

“Pusaka bukan benda mati,” ujar Heri, Kamis malam (13/04/2026). “Ia penanda peradaban. Jika hilang, kita tidak sekadar kehilangan barang, tapi juga kehilangan jejak diri.”

Kini, Heri menjabat sebagai salah satu ketua di Pusaka Nusantara Kalbar. Di bawah perannya, upaya pelestarian mulai ditata lebih serius—mulai dari inventarisasi, pembenahan dokumentasi, hingga perawatan yang mengikuti standar lebih layak. Bukan sekadar menyimpan, tetapi merawat dengan kesadaran sejarah.

Namun, kerja sunyi itu berhadapan dengan kenyataan pahit. Minimnya perhatian pemerintah daerah membuat banyak pusaka terabaikan. Di sejumlah kampung, benda-benda bersejarah disimpan seadanya—bahkan tak jarang berpindah tangan, dijual karena tekanan ekonomi.

Di titik itulah Heri memilih turun langsung. Ia mendatangi warga, membuka ruang dialog, dan membangun kesadaran bahwa nilai pusaka tak bisa diukur dengan uang.

“Yang dijual itu bukan benda,” katanya lirih, “melainkan sejarah.”

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Ketertarikan generasi muda mulai tumbuh. Sebagian di antaranya bergabung, belajar membaca ulang sejarah lokal yang selama ini terasa jauh dari kehidupan mereka. Gerakannya memang kecil, tetapi mulai terasa dampaknya.

Sejumlah pusaka yang dirawat Heri bahkan telah tampil dalam berbagai pameran. Sertifikat penghargaan dan piala menjadi bukti bahwa pelestarian ini bukan sekadar hobi pinggiran. Heri pun menyimpan harapan lebih besar: membawa pusaka Nusantara tampil di level ASEAN, memperkenalkan warisan lokal ke panggung regional.

Namun, mimpi itu belum sepenuhnya mendapat dukungan. Peran pemerintah yang diharapkan menjadi tulang punggung pelestarian masih belum maksimal.

“Saya berharap pemerintah kota dan daerah bisa melihat ini,” ujar Heri. “Bukan untuk saya, tapi untuk masa depan budaya kita.”

Di tengah derasnya arus modernisasi, kerja seperti yang dilakukan Heri mungkin tampak kecil—bahkan nyaris tak terdengar. Namun justru di situlah letak maknanya: menjaga agar ingatan kolektif tidak tercerabut, agar sejarah tidak sekadar menjadi cerita yang hilang.

Sebab bagi Heri, pusaka bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah penunjuk arah—ke mana sebuah bangsa seharusnya melangkah.(Irfan Tiago-Red)

0 Komentar

KLIK DISINI untuk bergabung