Gubernur Pramono: Wujudkan Generasi ‘Husni Thamrin Baru’ Lewat Semangat Lebaran Betawi

 

JAKARTA, harian62.info – Gubernur Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Pramono Anung, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menjadikan budaya Betawi sebagai identitas utama ibu kota. Hal ini disampaikannya saat menghadiri puncak acara Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4/2026).

Dalam sambutannya di hadapan ribuan warga yang memadati lokasi, Pramono secara khusus menyoroti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi DKJ. Regulasi tersebut secara resmi menetapkan budaya Betawi sebagai budaya utama dan ikon provinsi.

“Kita punya payung hukum kuat, UU No. 2 Tahun 2024, yang menjadikan Betawi sebagai budaya utama dan ikon Jakarta. Ini bukan sekadar simbol, tapi arahan strategis agar akar budaya kita tidak tergerus modernisasi,” ujar Pramono.

Pramono juga melontarkan harapan besar bagi generasi muda Jakarta. Ia mengajak para pemuda untuk meneladani semangat perjuangan pahlawan nasional Mohammad Husni (MH) Thamrin.

“Saya berharap ke depan muncul ‘Husni Thamrin-Tamrin muda’ dari kalangan anak muda Jakarta. Figur yang peduli pada rakyat kecil, kritis namun konstruktif, serta bangga dengan identitas Betawinya,” tandasnya.

Acara yang berlangsung selama tiga hari (10–12 April 2026) ini dikemas lebih dari sekadar pesta rakyat. Lebaran Betawi 2026 hadir sebagai momentum strategis kebangkitan identitas lokal. Pengunjung dimanjakan dengan beragam atraksi budaya otentik, mulai dari pertunjukan Lenong, Tari Topeng, hingga arak-arakan Ondel-ondel raksasa. Deretan stan kuliner juga menyuguhkan hidangan khas seperti Kerak Telor, Soto Betawi, dan Dodol yang menjadi daya tarik tersendiri.

Babeh Muy, Ketua Umum Ngedeprok dan Lembaga Adat Betawi (LAB) Kramat Jati, menyatakan bahwa perayaan tahun ini membawa misi mendalam bagi komunitas Betawi. Menurutnya, ini adalah waktu untuk introspeksi dan memperkuat akar budaya agar tetap relevan.

“Kita sedang berbenah. Kegiatan ini bukan hanya tontonan, tapi harus menjadi tuntunan. Tujuannya agar seni, kuliner, dan nilai-nilai Betawi terus dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Babeh Muy di sela-sela acara.

Antusiasme pengunjung terlihat signifikan sejak hari pertama. Ribuan warga Jakarta maupun penduduk dari wilayah Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) hadir mengenakan busana adat seperti Sadariah dan Kebaya Encim. Beberapa turis mancanegara juga terpantau mengabadikan momen kekayaan tradisi tersebut.

“Pengunjung datang dari berbagai daerah. Kami berharap skala Lebaran Betawi semakin besar dan dikenal hingga tingkat internasional,” harap Babeh Muy.

Memasuki hari kedua, Sabtu (11/4), suasana Lapangan Banteng kian hidup. Alunan musik tradisional yang dimainkan oleh kolaborasi seniman senior dan muda menciptakan harmoni tradisi yang memukau. Acara ini diharapkan menjadi wadah pelestarian budaya yang berkelanjutan, inklusif, dan mampu merekatkan keberagaman masyarakat Jakarta di bawah satu identitas kebanggaan: Betawi. (RA)

0 Komentar

KLIK DISINI untuk bergabung