Ziarah Serikat Tani Aceh di Kawasan PTPN Coet Girek: Menghidupkan Kembali Jejak Peradaban yang Terlupakan


 Aceh Utara – Sabtu, 28 Maret 2026.

Serikat Tani Aceh (SETIA) melakukan kunjungan ziarah ke sejumlah makam bersejarah yang berada di dalam kawasan perkebunan kelapa sawit PTPN Coet Girek, Kabupaten Aceh Utara. Kunjungan ini bukan sekadar kegiatan ziarah biasa, melainkan sebuah upaya untuk membangkitkan kembali ingatan sejarah yang selama ini seakan terkubur di balik hamparan perkebunan sawit.

Rombongan Serikat Tani Aceh mengunjungi beberapa makam yang diyakini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat bagi masyarakat Aceh. Di antaranya makam Putroe Haloeh, makam Tgk. Bate Puteh, serta makam seorang ulama besar Aceh yang berada di kawasan Buket Cuet. Ketiga situs ini telah lama dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai tempat yang menyimpan kisah sejarah, nilai budaya, serta cerita tentang karamah dan kelebihan para tokoh yang dimakamkan di sana.

Ketua dan para anggota Serikat Tani Aceh menyampaikan bahwa ziarah ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar kunjungan spiritual. Kegiatan ini merupakan bentuk pengingat kepada publik bahwa di balik kawasan perkebunan tersebut pernah berdiri jejak peradaban, sejarah, serta warisan budaya Aceh yang sangat berharga.

“Ini bukan sekadar ziarah. Ini adalah upaya membangunkan kembali sejarah yang nyaris dilupakan. Di tempat ini pernah ada jejak peradaban, ada ulama, ada tokoh yang dihormati masyarakat. Namun semua itu perlahan tertutup oleh kepentingan perkebunan sawit,” ujar salah satu perwakilan Serikat Tani Aceh.

Menurut mereka, keberadaan situs-situs bersejarah di dalam kawasan perkebunan PTPN Coet Girek menjadi bukti bahwa wilayah tersebut bukan sekadar lahan ekonomi, tetapi juga ruang budaya dan sejarah yang seharusnya dihormati dan dilindungi.

Serikat Tani Aceh menilai bahwa generasi muda Aceh perlu mengetahui kembali sejarah dan adat budaya yang pernah hidup di kawasan tersebut. Jika situs-situs ini dibiarkan hilang atau tidak diperhatikan, maka generasi yang akan datang hanya akan mewarisi cerita tanpa bukti sejarah yang nyata.

Dalam kegiatan ziarah tersebut, para peserta juga mendoakan para tokoh yang dimakamkan di lokasi tersebut serta menyerukan agar semua pihak membuka mata terhadap pentingnya menjaga situs sejarah yang berada di kawasan perkebunan.

Serikat Tani Aceh berharap kegiatan ini dapat menjadi pengingat bagi pemerintah, masyarakat luas, dan pihak PTPN agar lebih memperhatikan keberadaan situs-situs sejarah yang berada di wilayah Coet Girek. Mereka menegaskan bahwa sejarah dan budaya Aceh tidak boleh hilang hanya karena kepentingan ekonomi semata.

Bagi masyarakat Aceh, tanah bukan hanya sekadar lahan produksi. Tanah adalah ruang sejarah, tempat bersemayamnya para ulama, serta saksi perjalanan panjang peradaban Aceh. Karena itu, menjaga situs sejarah berarti menjaga identitas dan martabat budaya Aceh itu sendiri.

Kunjungan ziarah ini sekaligus menjadi pesan kuat kepada publik bahwa di balik kawasan perkebunan Coet Girek, masih tersimpan jejak sejarah yang menunggu untuk diungkap dan dihormati kembali oleh generasi hari ini dan masa depan. 

(B$)

0 Komentar

KLIK DISINI untuk bergabung