Suasana tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Tudang Manre Sipulung 2026, tradisi makan bersama masyarakat Bugis yang digelar oleh Forum Komunikasi Orang Bugis Kalimantan Barat.
Dalam bahasa Bugis, tudang berarti duduk, manre berarti makan, dan sipulung berarti bersama. Tradisi ini bukan sekadar makan bersama, tetapi menjadi simbol kebersamaan, persaudaraan, serta ungkapan rasa syukur yang diwariskan secara turun-temurun.
Di Kota Pontianak, tradisi ini berkembang menjadi ruang pertemuan lintas komunitas. Budaya menjadi perekat yang mempertemukan berbagai kalangan masyarakat dalam suasana kekeluargaan.
Pelaksanaan kegiatan yang bertepatan dengan bulan Ramadan tersebut juga terasa semakin khidmat. Sebelum berbuka puasa, para tamu disuguhi rangkaian pertunjukan seni budaya Bugis, mulai dari alunan musik tradisional hingga tarian khas yang memeriahkan suasana.
Menjelang waktu berbuka, deretan kuliner khas Bugis mulai tersaji rapi. Di antaranya jalangkote, doko-doko, bolu peca, serta kurma sebagai hidangan pembuka. Sementara menu utama menghadirkan burasa, lepat lau, sambal udang kentang, coto Makassar, rendang, hingga kopi Toraja Sapan dan Seko yang menambah kehangatan suasana.
Sebagai penutup, hidangan es pisang ijo dan saraba turut melengkapi sajian berbuka puasa.
Bagi masyarakat Bugis, berbagai hidangan tersebut bukan sekadar makanan. Setiap sajian menyimpan cerita tentang tradisi, perjalanan, serta identitas budaya yang tetap dijaga meski berada jauh dari tanah asal.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai tradisi Tudang Manre Sipulung mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan masyarakat Pontianak yang hidup dalam keberagaman. Dalam budaya Bugis dikenal pula ungkapan sipakatau, sipakatalebbi, sipakainge yang bermakna saling memanusiakan, saling menghormati, dan saling mengingatkan.
“Pontianak merupakan kota yang dihuni oleh berbagai suku dan budaya. Tradisi seperti Tudang Manre Sipulung menunjukkan bagaimana budaya dapat menjadi perekat persaudaraan sekaligus memperkaya kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Edi, kegiatan budaya yang dibalut dengan aktivitas sosial tersebut juga mencerminkan nilai gotong royong yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalimantan Barat.
“Selain melestarikan tradisi, kegiatan ini juga mempererat silaturahmi dan menjadi sarana berbagi kepada sesama, terlebih dilaksanakan pada bulan Ramadan yang penuh berkah,” tambahnya.
Menjelang waktu berbuka, suasana ruangan semakin khidmat. Saat azan Magrib berkumandang, para peserta secara serentak menyantap hidangan yang telah tersaji di hadapan mereka. Duduk bersila tanpa sekat dan tanpa perbedaan status, seluruh peserta larut dalam suasana kebersamaan.
Di tengah arus modernisasi kota, Tudang Manre Sipulung menjadi pengingat bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat. Tradisi ini bukan sekadar ritual budaya, melainkan jembatan yang menghubungkan generasi, mempererat silaturahmi, serta merawat identitas budaya di Kota Pontianak.
(Bsg)

0 Komentar