Pontianak, Kalbar — Klaim ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) yang disebut “aman” oleh Pertamina kembali dipertanyakan publik. Di Kota Pontianak, realitas di lapangan justru menunjukkan kondisi sebaliknya: antrean panjang tak kunjung terurai selama dua hari terakhir.
Di sejumlah SPBU, antrean kendaraan tampak mengular seperti tak berujung, bahkan meluber hingga ke badan jalan dan memicu kemacetan serius. Aktivitas masyarakat terganggu, distribusi barang tersendat, dan waktu produktif warga terbuang sia-sia hanya untuk mendapatkan BBM.
Yang lebih memprihatinkan, sejumlah warga dilaporkan terpaksa menginap di area SPBU, berharap bisa kebagian bahan bakar keesokan harinya. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: jika stok benar-benar aman, mengapa kondisi di lapangan justru seperti krisis?
Menjelang hari raya, keresahan masyarakat kian memuncak. Namun ironisnya, respons pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum (APH) dinilai masih datar dan belum menyentuh akar persoalan.
Sejumlah pengamat menilai kondisi ini bukan sekadar persoalan distribusi biasa, melainkan indikasi lemahnya pengawasan dan manajemen distribusi BBM. Jika dibiarkan, situasi ini berpotensi memicu ketidakpercayaan publik terhadap pengelolaan energi nasional.
“Ini bukan lagi soal antrean, tapi soal kegagalan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.
Publik kini menunggu langkah konkret, bukan sekadar pernyataan normatif. Evaluasi menyeluruh terhadap distribusi BBM dan kinerja operasional dinilai mendesak dilakukan, sebelum kondisi semakin memburuk dan berdampak luas.(Bgs_Tim)


0 Komentar